Lahir Dengan Agama?

Ketika seorang bayi dilahirkan dari rahim ibunya, umumnya sang bayi sudah pasti akan beragama sama dengan orang tuanya, tanpa pernah meminta persetujuan pada si bayi apakah dia memang bersedia untuk menganut agama tersebut.

Terlepas dari kewajiban orang tua untuk mendidik anaknya termasuk dalam beragama, maka sebenarnya si bayi atau anak tersebut tidak pernah mempunyai kesempatan untuk memilih suatu agama untuk dianutnya. Si anak hampir sudah pasti akan memeluk agama seperti agama keluarganya. Sangat jarang bahkan hampir tidak ada seseorang berpindah agama hanya karena dia berkeyakinan bahwa suatu agama lebih baik dari agama yang lain. Karena umumnya bagi seorang manusia, memeluk suatu agama otomatis memunculkan fanatisme pada agama yang dianutnya, bahkan akan dapat menimbulkan emosi jika ada agama lain mengkritisi agamanya.

Sejauh yang saya ketahui, alasan seseorang untuk berpindah agama adalah karena alasan perkawinan, yaitu calon suami atau istri memeluk agama yang berbeda. Namun ada juga yang tetap menikah tanpa berpindah agama dan tetap berbeda agama di dalam rumah tangga. Lalu bagaimana jika mereka memiliki anak? Awalnya akan ada kesepakatan untuk mengajarkan si anak salah satu agama orang tuanya, agama si ibu atau si bapak, dan setelah dewasa si anak dipersilahkan memilih suatu agama. Namun hal ini sangat jarang berhasil, umumnya keluarga seperti ini tidak bisa bertahan lama, kecuali si orang tua benar-benar menyadari bahwa semua agama sama saja, yaitu mengajarkan kebaikan.

Kembali ke masalah memilih agama, walaupun kita tahu agama memang bukanlah pilihan, kita memang dilahirkan dengan berstatus memeluk suatu agama. Mungkin belum pernah dibayangkan bagaimana jika fanatisme terhadap suatu agama bisa dikurangi atau bahkan dihilangkan. Kemudian seorang anak misalnya dipersilahkan memeluk suatu agama ketika sudah cukup usia untuk memilih suatu agama. Sejak lahir sampai ketika dia akan memilih suatu agama, si anak tetap diajarkan tentang kebaikan dan diajarkan  pendidikan layaknya suatu agama.

Tentu saja hal ini sangatlah ekstrem dan hampir tidak mungkin untuk dilaksanakan. Semua pihak pasti tidak setuju dan menentang hal seperti ini, apalagi bagi mereka yang merasa bahwa “tidak semua agama sama”, bahwa “agama mereka lebih baik dari agama lainnya”,  dan berkata “kamu ngomong apa sih!!”.

Masyarakat saat ini memang tidak mungkin bisa menerima hal ini, apalagi di dalam negara yang masih ikut campur dalam urusan keagamaan. Juga di dalam masyarakat yang masih memiliki fanatisme terhadap agamanya, yang menganggap agama lain adalah musuh yang harus dimusnahkan, yang menganggap bahwa tidak ada agama lain di dunia ini.

Entah kapan kita bisa memiliki pemikiran sederhana bahwa agama itu tidak ubahnya seperti kendaraan yang akan membantu kita mencapai suatu tujuan dengan selamat. Jika kita mengendarai sebuah truk bersama puluhan orang, kita tidak bisa memaksa seseorang yang hanya menaiki sepeda dayung sendirian untuk ikut mengendarai truk tersebut, dan ingatlah pula bahwa dijalan raya juga tidak hanya ada truk, ada juga sepeda motor, becak, mobil, dan yang lainnya yang juga ingin sampai di tujuannya dengan selamat. Ketika berada di atas truk apalagi dengan puluhan orang, kita tidak boleh seenaknya menabrak pengendara motor hingga dia mati berkeping-keping.

Ingat, jalan mencapai tujuan itu adalah milik semua orang..

43 comments so far

  1. Kang Kombor on

    Tentu saja sebagai orang tua, siapa pun akan mengajarkan anaknya untuk mengikuti agamanya. Bagaimana mungkin seseorang mendakwahi orang lain untuk ikut menganut agamanya sedangkan kepada anaknya sendiri dia memberikan pilihan? Dalam hal seperti itu makanya saya cenderung tidak merekomendasikan perkawinan antar-agama. Lebih banyak negatifnya daripada postitifnya.

  2. mrlekig on

    #Kang Kombor
    iya, akan lebih baik yg se-agama, yg jelas itu bukan atas dasar fanatisme tapi utk meminimalkan masalah..🙂

    sebagai orang tua, mengajarkan anak ilmu agama yg kita anut adalah sangat wajar karena agama itulah yg kita ketahui, tidak mungkin kita mengajarkan agama yg tidak kita mengerti

    terima kasih komennya Kang..

  3. duterz on

    iya seharusnya orang tua tuch ngertiin anaknya jgn egois toh anak berhak memilih jalan hidupnya trmasuk dalam hal agama
    .keyz.agree..kang?…

  4. mrlekig on

    #duterz
    agree banget… semua menuju kebaikan, yang penting si anak diajarkan tentang kebaikan.

  5. danalingga on

    saya sih setuju aja orang tua mengajarkan agama yang di anutnya kepada anaknya, sebab tentu agama itulah yg dia ketahui bukan? Jadi tidak mungkin mengajarkan agama yang tidak dia ketahui.

    Namun saya tidak setuju, ketika si anak misalnya karena sesuatu hal ingin pindah agama, terus dilarang.

    Dan mengenai kawin beda agama sih saya pribadi setuju aja. Tapi ya itu tadi harus siap dengan konsekuensinya, sebab masyarakat indonesia masih menabukan hal tersebut.

  6. mrlekig on

    #danalingga
    komentar anda sungguh bijaksana, memang sulit menerima hal seperti itu (pindah agama), tapi marilah kita bijak dan memandang sesuatu hal dari segala sudut pandang..

  7. Neo Forty-Nine on

    Manusia itu beragama hanya karena warisan orang tua…….

  8. Kopral Geddoe on

    Mantaaaf, mencerahkan, ngajak mikir😛
    Saya add link blog Guru di blog saya yah😛

  9. mrlekig on

    #Neo Forty-Nine
    Betul, warisan orang tua, tetapi boleh donk kita kritis dan berpindah agama kalau memang merasa lebih cocok dengan suatu agama lain.. Agama boleh dipilih kok, asal jangan plin-plan.

    Tetapi ingat, semua agama mengajarkan kebaikan.

  10. mrlekig on

    #Kopral Geddoe
    Ah nggak juga, kalau ada yang berguna silahkan digunakan, yang jelek dibuang..

    Makasi, silahkan di add🙂

  11. matahari pagi on

    enak juga bahasannya. menarik dan dibuat berpikir santai.

    Kalau menurut aku, sebaiknya pelarangan/pencegahan, sedikit dilakukan untuk seorang pindah agama. tetapi bila tak bisa, ya kita serahkan ke seseorang yang memang niat pindah itu.

    Ya..ya..memang milik semua orang..tinggal bagaimana menggunakan jalan tersebut.

  12. manusiasuper on

    Masih bingung, dogma masih terlalu kuat di otak dan hati saya. Tapi terima kasih atas posting yang membuka wawasan baru ini…

  13. mrlekig on

    #matahari pagi
    mari kita gunakan bersama-sama “jalan” itu dan ingat dirawat bersama-sama juga, jangan egois dan merasa memiliki jalan itu “sendirian” peace🙂

    #manusiasuper
    terima kasih kembali, tidak apa-apa bila dogma, doktrin, dan apapun namanya masih melekat di hati kita masing-masing, yang penting walaupun berbeda-beda tapi kita tetap rukun dan damai🙂

  14. Kopral Geddoe on

    Entah kenapa, motivasi saya untuk melaksanakan ritual agama lebih kurang serupa dengan kebiasaan saya makan nasi… Kultural…😕 ‘Sebenarnya ada jalan lain, tapi lebih doyan yang ini’…

    Omnitheistik…?😛

  15. mrlekig on

    #Kopral Geddoe
    Omnitheistik itu apa ya?😀
    Jika tidak ikhlas untuk melakukan ritual agama, lebih baik jangan daripada melakukan dalam keadaan yang tidak 100% ingin melakukan. Bagi saya, yang penting kita selalu berbuat baik dan tidak menyakiti makhluk lain. Setahu saya, Tuhan tidak pernah minta kita untuk menyembah-Nya (CMIW)

  16. lengkonk on

    @atas saya,
    Berbuat yang baik, berkata yang benar, berpikir yang jernih. Itu aja kok, gak usah aneh-aneh.😀
    Dan alangkah indahnya klo dilengkapi dengan ritual yang ikhlas. Buat apa rajin sembahnyang tapi ujung-ujungnya menyakiti makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya.

  17. rajaiblis on

    @lengkonk
    gimana kalo cara bicaranya dibalik,
    untung dia rajin sembahyang, coba kalo tidak, mungkin makin banyak lagi makhluk ciptaan tuhan yang akan disakiti … !

  18. nesia on

    Seperti Bali, Mr Lekig emg mata air pencerahan pluralitas yg damai.
    Romo Mangun pernah blg, masalahnya bukan apa agamamu, tp seberapa beragamanya kamu.
    Saya sendiri tdk begitu merekomendasikan org pindah agama, karena setiap agama punya plus minus; persis seperti antara truk dan minibus dalam ilustrasi di atas.
    Setiap agama punya sejarah kelam, tp juga punya episode gemilang.
    Firman kebenaran dari Tuhan, tak kan bisa tertuliskan walau seluruh samudera raya dijadikan tinta, seluruh ranting pohon dijadikan penanya.
    Jd, bagaimana mgkin, sebuah kitab suci yg sekian ratus halaman, bisa menampung seluruh kebenaran.
    Salam.

  19. Kopral Geddoe on

    Makanya agama dan cengkak-cengkoknya, selama masih toleran, mungkin masih perlu dipelihara🙄😆

  20. mrlekig on

    #nesia
    Hehehe, saya mungkin tidak sehebat itu. Saya cuma ingin kedamaian, alangkah indahnya ketika kita hidup damai bersama-sama.. entah kapan itu bisa tercapai..
    🙂

    #Kopral Geddoe
    Toleransi, harus itu…🙂

  21. ingkan on

    blog anda bagus sekali. jarang saya menemukan blog yang ngomongin agama tanpa muter2 trus isinya bagus sekali karna tidak memojokkan pihak manapun

    agama sifatnya lahiriah seperti yang kita tahu. tapi akhirnya menimbulkan sikap fanatisme tersebut. susah sekali memang untuk dihilangkan soalnya sudah tercampur sama yang namanya CULTURE.

    walaupun saya sendiri islam, tapi saya orang yang percaya bahwa agama itu hanyalah sebuah brand. kebetulan saya mahasiswi advertising.hihi. ibadah dalam dunia advertising dilihat sebagai suatu consumer behaviour atas suatu brand. kalau dihubung2kan sih bener juga hehe. tapi intinya semua agama sama-sama mengajarkan kebaikan. yang berbeda hanya cara menujuNYA.

    pernah terpikir engga, kalau kita melihat islam tidak hanya dari DALAM tapi dari kacamata agama lain, trus kita pelajari juga ajaran mereka. menurut saya, kita justru akan bisa melihat islam seutuhnya. kita mungkin bisa memahami agama kita seutuhnya. karna sampe sekarang belum ada tuh manusia yang bisa memahami agamanya seutuhnya. seandainya semua orang bisa sebijaksana anda.

    cheers

  22. mr lekig on

    #ingkan
    “agama hanyalah sebuah brand”, sebuah analogi yang menarik juga..

    sampai saat ini belum ada manusia yang memahami agama seutuhnya? iya benar, karena agama hanyalah sebuah alat bantu untuk menuju kebaikan, agama ada untuk dijadikan pegangan, tuntunan untuk berbuat baik, jika kita telah memahami dan mampu menjalankan segala tuntunan dan petunjuk agama kita masing2, tentu saja agama mungkin sudah tidak diperlukan, karena dihadapan tuhan, semua agama sama…

    cheers🙂

  23. mr lekig on

    #ingkan
    saya hanya orang bodoh yang mencoba berpikir polos..😀

  24. Marudut p-1000 on

    Salam kenal mr lekig
    Tempat yang paling senang kukunjungi adalah Bali. Aku serasa menjadi manusia bebas berada di sana. Belum pernah kutemukan intervensi agama ,dalam aktivitasku sehari-hari sebagai wisatawan, tapi sering sekali kutemukan orang melaksanakan ritual agama.

    Agama dan penganutnya kunilai sangat independen (dewasa). Tingkah pola para wisatawan yang beraneka ragam, bahkan cenderung vulgar, tidak mempengaruhi kekhusukan orang Bali dalam melaksanakan ritual ibadahnya.

    Analogi “jalan bersama” di atas menunjukkan kedewasaan iman seseorang, yang penting diperhatikan adalah rambu-rambu agar tidak terjadi benturan. Manusia bebas memilih “kendaraan” apa yang mau digunakan sepanjang pemilihan tersebut tidak disertai dengan kekerasan apalagi dengan dalih dihalalkan.

  25. mr lekig on

    #Madarut p-1000
    Salam kenal kembali, terima kasih atas pujiannya terhadap Bali, saya ikut bangga sebagai orang Bali kalau ada yg senang datang ke pulau ini..

    Masyarakat Bali memang begitu, biasanya hanya memikirkan diri sendiri, tidak ada waktu untuk mikirin orang (agama) lain..

    Oya, anda benar sekali, memang analogi itu perlu ditambahkan tentang rambu-rambu yang harus dipatuhi dalam menggunakan jalan yang ada, terima kasih atas tambahannya..

    Salam damai..

  26. jaren on

    Pada saat tahun sebelum tahun 70 an, hubungan kekarabatan kami sebagai suatu komunity, sangatlah harmonis. Adat-istiadat yang ada dapat mengikat perindividu, sehingga menciptakan masyarakat yang rukun dan harmonis secara jujur dan apa adanya’ Perbedaan pendapat memang ada, namun adat masih dapat menjembati perbedaan tersebut sehingga tidak terjadi perpecahan. Namun sangat disayangkan adanya, setelah masyarakat menerima berita gembira atau rahmad dunia, pelan dan pasti, bahwa peran adat-istiadat sebagai perekat yang telah menyuburkan keharmonisan hubungan individu dan kelompok, mulai luntur, berganti menjadi masyarakat yang pecah terkotak-kotak, berdasarkan keyakinan yang baru diterima. Yang menjadi pertanyaan bagi kita semua adalah, apa yang salah dengan berita gembira atau rahmad dunia itu ? Apakah berita gembira ( Injil) dan rahmad dunia ( Al Quran) itu diperlukan untuk mengacaukan atau menjungkirbalikkan keharmonisan yang telah ada di tengah2 masyarakat selama ini ?

  27. mr lekig on

    #jaren
    saya kurang mengerti maksud komentar anda…

    namun, apapun maksudnya, adat-istiadat memang sangat diperlukan dalam hidup bermasyarakat, seperti di Bali, bahkan kadang susah memisahkan atau membedakan antara adat dan agama karena begitu menyatu, dan syukurlah itu turut berperan dalam menciptakan kedamaian..

  28. jaren on

    Sebelum agama masuk, kehidupan yang harmonis diantara individu maupun kelompok, sangatlah erat. Hal ini karena adat istiadat yang terpelihara dengan baik. Setelah apa yang disebut dengan : agama, masuk, maka mulai muncul pengkotak-kotakan masyarakat beradasarkan keyakinan yang baru ini. Hal ini terlihat jelas sekali dalam hal penyajian makanan di dalam satu pesta, ada yang berpantang dan ada seperti sediakala. Walaupun agama pada waktu dulu belum ada ditengah-tengah masyarakat ybs, bukan berarti masyarakat tersebut tidak mengenal sang maha pencipta. Namun setelah mengenal agama tsb, kok malah terjadi perpecahan/ perkotak-kotakan, sehingga maksud tujuan diperkenalkannya agama kemasyarakat, bukannya menambah keharmonisan hubungan antara satu individu dengan individu lainnnya atau satu kelompok dengan kelompok lainnya, bahkan sebaliknya. Ada apa dengan agama ini ? Apakah agama yang mengatasnamakan Tuhan itu, Tuhan sendiri mengenal agama yang dipekenalkan pada masyarakat itu ?

  29. mr lekig on

    #jaren
    agama memang terkadang menjadi sumber perpecahan atau perselisihan. Ini terutama ketika toleransi bergama masih kurang. Terkadang ini disebabkan oleh pemuka agama masing2 yg suka mengompori umatnya dgn menjelek2kan agama lain.

    Maka dari itu, mari mulai toleransi itu dari sekarang.

  30. Nanas!!! on

    Aih, lagi-lagi saya ketemu blog keren yang sukses bikin saya ga bosen hehehe ^_^.

    Masalah apakah sejak masih dalam kandungan ibu kita sudah beragama itu memang mbingungi kok. Ada yang bilang begitu kita lahir ke dunia kita lupa akan ‘kontrak’ kita dengan Tuhan (Gile, Tuhan bisa ngontrak juga O.o), dan agama diharapkan bisa mengingatkan kita akan ‘kontrak’ tersebut. Nah, which religion best decribed the ‘contract’? Binun tho? *_*

    Barangkali nanti saya akan ajari anak saya first of all cara bertoleransi dengan sesama umat (beragama maupun yang tidak beragama). Dengan begitu kalopun nanti si anak bingung dengan fanatisme beragamanya, setidaknya dia tidak mengarahkan fanatisme tersebut ke arah yang negatif (jadi rasis misalnya).

  31. Nanas!!! on

    Saya add di blog saya ya sebelum kelupaan🙂

  32. mr lekig on

    #Nanas!!!
    Ah, keren atau tidak itu relatif, terima kasih sudah memuji…🙂

    Btw, apa alamat blog anda? Kok tidak dicantumkan?

  33. Nanas!!! on

    Whoopss, maaf maaf kelupaan🙂. Sekarang udah saya cantumkan kok, hehehe

  34. mr lekig on

    #Nanas!!!
    hehehehe

  35. Eva Nanik Widiya on

    Bayi lahir tanpa agama. Pendapat anda salah besar.
    Ketahuilah. Ketika orang pertama Adam diciptakan Allah dari tanah. Dan kemudian ditiupkan Roh didalamnya. Maka Adam telah bersujud dihadapan Allah dengan disaksikan malaikat. Adam berjanji akan selalu taat dan beriman dengan Firman2 Allah.

    Dan ketahuilah bahwa dalam alam kandunganpun Kita telah berjanji dan melakukan kontrak yang sama dengan Allah. Bahwa kita akan selalu taat kepada Firman Allah yang dibawa Rasul2.

    Dan sekarang telah datang jalan Allah dengan firman2 nya(Injil dan Al quran). Tetapi orang hindu bali enggan mengikutinya. mereka orang hindu bali lebih suka kpd Dewa dan patung2 daripada jalan Allah. Hindu bali bali adalah Jahiliyah, penyembah dewa2.

    Anda telah mengingkari ikrar anda dalam alam Kandungan. Dan telah mengingkari kontrak Adam dengan tuhan.

    Ingatlah Tuhan akan memasukkan orang Jahiliyah penyembah berhala di Bali kedalam api neraka yang membara.

    Ingatlah

  36. Martheen on

    Ayo deh, klo anda punya bayi, rekam CAT scan dari awal sampe akhir, klo bener si bayi bikin kontrak, bahkan sekedar ngomong “ehm, kalimat pertamaku adalah”, niscaya matahari g bakal terbenam sampai laut kering (it’s impossible, stupid)

  37. dexlon on

    Abraham*** Dimana2 komentar anda selalu menyudutkan umat Hindu di Bali. Sejujurnya aq mendidih darahku mendengar pendapat2 anda.

    Ketahuilah, wahai Ibrahim yg religius. urus dulu sodara2 elo yg kayak amrozy cs. Barulah elo liat keluar. Selamatkan tuh org2 yg tertimpa musibah… Sebelum elo ngomentari keyakina org lain.
    Seandainya org selain yg beragama Islam akan masuk neraka, bukankah suatu keberuntungan bwt kamu. Sorga jadi lapang…sehingga kamu puas bermain2 dengan malaikatmu. Tinggal menikmati sendiri keindahan padang fridaus, tanpa gangguan dari kami2 yg au anggap kafir. Selamat menuju sorga yagh….

    Otak kamu itu udah kotak keji bin culas. Mengomentari agama org lain tanpa mau melihat apa yg telah kamu/ oknum muslim lakukakn atas nama agama.

    Tanya kepada Adammu…kenapa bayi2 tak berdosa di aceh juga ikut menjadi korban Tsunami??? Kontrak apakah yg mereka bwt dgn allahmu, sehingga terjadi pembunuhan massal oleh tuhanmu. mungkin kontraknya kurang meterai kali…sehingga dianggap tidak syah….
    Aq berharap, pikiran baik datang dari segala arah.

    Mengutip lagunya Ebiet g. Ade:
    “Tengoklah kedalam, sebelum bicara..sucilahir dan didalam bathin”””

  38. nurmansah on

    Untuk semua yang setuju dengan adanya perbedaan (termasuk saya) mari kita rubah sistim dalam negara kita yang mengatur tentang privasi warganya untuk berkeyakinan. Indonesia ini bentuknya saja republik sekular tapi di dalam prakteknya negara masih mencampuri undang undangnya dengan aturan yang ada dalam salah satu agama tertentu, dan yang paling fatal adalah agama juga harus dimasukkan kedalam KTP yang notabenenya adalah indetitas pribadi seorang warganegara. Padahal agama itu adalah urusan seorang hamba dengan Tuhannya, bukan urusan warga kepada negaranya, kalau itu yang terjadi lha ini kan artinya negara mencampuri urusan warganya dalam berkeyakinan, hapuskan Departemen Agama karena ini adalah salah satu bentuk terbuka bahwa negara itu sudah mencampuri urusan berkeyakinan warganya.Kembalikan masalah keyakinan dan agama kepada setiap pribadi masing masing Individu, jangan lagi negara ikut campur dalam urusan yang satu ini.

  39. T. on

    saya seorang muslim……

    saya mewakili rekan2 muslim dsini untuk meminta maaf, telah menyinggung anda-anda semua….

    untuk komentar2 dr rekan muslim yg kurang berkenan, saya rasa mereka tidak mewakili umat muslim…

    itu (mungkin) pemahaman mereka yang masih sempit saja..

    sekali lagi saya meminta maaf…

    T.

  40. garingpung on

    #atas T
    *itu (mungkin) pemahaman mereka yang masih sempit saja..

    Agama hanya organisasi saja…
    Agama tercipta oleh manusia…
    Karena agama manusia menjadi terkotak kotak…

    “Dengan Agama membuat manusia menjadi lebih mulia”

    Pertanyaannya :
    1. Mulia dimata siapa?
    2. Hewan yg tidak beragama apa dapat masuk surga?
    3. Bagaimana bila manusia berprilaku hewan dan hewan berprilaku spt manusia? (hewannya trus masuk mn? kalau manusia masuk neraka…)

    dewasalah untuk berpikir…
    “ingat”…
    ciptaan tuhan bukan hanya manusia…
    semuanya ciptaan tuhan bermimpi utk menjadi penghuni surga kelak…

    maaf bila saya sedikit extreme dlm berpendapat
    semuanya agar kita berpikir lebih luas lagi bila berbicara soal ketuhanan

    thanks ya buat mrlekig yg telah memberi tempat

  41. logik on

    Memang, beragama atau tidak, awalnya given dari orang tua. Tergantung orang tua. Tapi jika Anda lahir dari sebuah perkawinan Hindu dengan manusa saksi, pitara saksi dan dewa saksi… ya jelas sudah Hindu. Ketika kemudian bayi mbrojol, tumbuh trus logikanya mulai berkembang nah… Keputusan terserah Anda. Saya lahior dalam Hindu, kemudian secara logis akal sehat saya memilih jalan yang kebetulan bernama agama Hindu. Gitu aja kok repot.

  42. yanz on

    mantaf2,,,,
    ijin plagiat gan

  43. jusuf widjaja on

    ini tahun 2016 DITEMUKAN BAYI LAHIR BELUM MEMPUNYAI AGAMA….DIA LAHIR BARU DIBELAJARI MEMANGGIL AYAH DAN IBU SERTA DIBELAJARI BAHASA NEGARANYA….BARU SETELAH ITU BARU DIPELAJARI AJARAN AGAMANYA …ORTU DAN LINGKUNGAN…2 FAKTOR INI PENENTUNYA AGAMA APA YANG AKAN DIANUTNYA….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: