Archive for August, 2007|Monthly archive page

Kenapa Indonesia Bisa Merdeka?

Mumpung suasana perayaan kemerdekaan Indonesia belum hilang, saya ingin posting tentang semangat nasionalisme. Tulisan ini terinspirasi dari sebuah gelaran wayang (Cenk Blonk).

Sebelum 17 Agustus 1945, Indonesia belum merdeka. Penjajahan masih terjadi dimana-mana, banyak pahlawan gugur. Setiap kerajaan yang ada di Indonesia telah memberikan perlawanan sengit untuk meraih kemerdekaan. Di bidang senjata kita memang kalah dari penjajah, tapi dari segi jumlah pasukan dan semangat bertempur, kita seharusnya menang. Dari segi taktik pun tidak begitu mengecewakan. Lalu mengapa pada waktu itu Indonesia sepertinya susah sekali untuk merdeka? Bayangkan, sekian abad kita dijajah oleh berbagai bangsa. Kita bagaikan seekor sapi peras yang dipaksa untuk menghasilkan susu.

Dari semua faktor yang ada, ada salah satu faktor yang menurut saya belum dipenuhi oleh Indonesia pada saat itu yang menyebabkan Indonesia belum berhasil untuk merdeka. Yaitu faktor yang kini telah ada di salah satu sila Pancasila yaitu : Persatuan Indonesia. Semua perang yang ada pada saat itu hanyalah mengatasnamakan kerajaan, daerah, golongan, dll. Belum ada suatu gerakan yang mengatasnamakan Indonesia sebelum Proklamasi Kemeredekaan Indonesia.

Tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia dengan mengatasnamakan Indonesia dengan Pancasila sebagai dasar negara. Itulah kekuatan utama kita pada saat itu. Pepatah “Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh” bukan hanya sebuah jargon atau pepatah semata. Karena dengan itulah Indonesia bisa seperti saat ini.

Hati saya sangat miris ketika kini suatu kelompok tertentu ingin merubah Pancasila ataupun memasukkan syariat agama tertentu kedalamnya. Sudah lupakah mereka? Indonesia itu ber-Bhineka tetapi tetap Tunggal Ika. Indonesia bukan hanya milik agama tertentu, Indonesia milik seluruh rakyat Indonesia. Jadi jangan sekali-kali membawa nama agama kedalam negara Kesatuan ini.

Buang saja agama kalian itu jika tetap menganggap Indonesia ini hanya milik agama kalian!

Perlukah Agama Disebarkan?

Perlukah agama disebarkan? Pertanyaan ini sebenarnya agak sulit untuk dijawab dan jawabannya pun tidak akan bisa memuaskan semua pihak. Bisa jadi pertanyaan ini menyebabkan perselisihan atau pun perbedaan di tengah perbedaan yang sudah ada.

Bagi para maniak agama dan pemuja agama (bukan pemuja Tuhan), jawabannya pasti “Ya”. Dengan lantang dan penuh semangat, mereka akan menjawab seperti ini :

“Tentu saja agama harus disebarkan, dan agama sayalah yang harus disebarkan karena hanya agama saya yang paling benar”. “Di kitab suci saya, di ayat bla bla bla….” dan seterusnya.

Di muka bumi ini, mungkin hanya sedikit orang yang setuju bahwa agama tidak disebarkan (lagi). Maksud saya adalah pertanyaan ini dilontarkan untuk saat ini. Bukan zaman dulu dimana orang belum tahu apa itu agama dan banyak yang belum beragama.

Anda yang membaca postingan ini mungkin akan bertanya, “Lalu menurut anda gimana?”. Menurut saya, saat ini agama tidak perlu lagi disebarkan, kenapa? Karena saat ini, agama telah tersebar. Jadi agama tidak perlu lagi disebarkan, memangnya siapa lagi yang akan kita suruh beragama, karena semua orang telah beragama.

Kalau ada yang mencoba menyebarkan agamanya, pasti akan terjadi perpindahan dari suatu agama ke agama yang lain. Saya sendiri tidak mempersoalkan perpindahan agama selama tidak terjadi pemaksaan. Tetapi, dalam keadaan saat ini, dimana masih banyak sekali orang (pemuja agama) yang tidak rela melihat “saudara seiman” mereka pindah agama. Maka untuk meminimalkan perselisihan seperti itu apalagi sampai saling menghujat, maka sebaiknya para pemuka masing-masing agama tidak usah lagi menyebarkan agama mereka. Cukup agama menjadi urusan pribadi saja, urusan diri sendiri.

Ditambah lagi, bagi para penyebar agama, apakah mereka yakin bahwa agama yang mereka sebarkan itu menjamin kehidupan yang lebih baik? Apakah lebih baik dari agama yang telah dipeluk oleh seseorang? Karena toh pada dasarnya semua agama sama, memuja Tuhan dan memberikan kedamaian!

Saya bahkan ingin mengajak para pemuka agama, mungkin sedikit menantang, beranikah anda bicara di depan umat anda bahwa “Semua Agama adalah Baik”? Maukah anda mengajak umat anda dengan berkata “Mari kita hargai umat beragama lain karena mereka juga ciptaan Tuhan”. Kalau anda bisa melakukan itu, saya tidak akan sungkan untuk mengacungkan kedua jempol tangan saya untuk anda.

Gimana Pak Ustad, Pak Pastor, Pak Pendeta, Pak Mangku? Berani….?

Next Page »