Poligami dalam Konsep Hindu

Poligami tak hanya diperbolehkan dalam ajaran islam. Menikah lebih dari satu kali ini juga diijinkan dalam konsep ajaran Hindu.

Bagi orang Bali jaman dahulu terutama raja-raja, menikah lebih dari satu kali merupakan suatu kebanggaan dalam sebuah kekuasaan. Tak hanya dalam cerita, dalam lontar Hindu jelas disebutkan bahwa menikah lebih dari satu kali adalah hal yang wajar, yang berbeda hanya istilahnya. Jika dalam Islam disebut Poligami dalam Hindu disebut Tresna atau Kresna Brahmacari.

“Belum ada yang tertulis gamblang bahwa boleh menikah lebih dari satu kali. Tapi kalau memang ada ajaran yang memuat bahwa diijinkan menikah lebih dari satu kali dan itupun bukan berarti bebas,” terang Putu Wilasa, Ketua PHDI Kabupaten Buleleng. Dalam Lontar Wrettisasana, Buku Silakrama disebutkan salah satu bagian dari Catur Asrama yaitu Brahmacari. Wilasa menjelaskan, konsep poligami menurut ajaran Hindu terdapat pada salah satu bagiannya yaitu, Kresna atau Tresna Brahmacari. Ajaran itu mengandung arti, boleh menikah lebih dari satu kali maksimal empat kali. “Tapi dengan alasan tertentu. Misalnya karena tak punya keturunan dari istri pertamanya atau seterusnya, karena sakit, dan yang lainnya. Selama alasannya untuk dharma tak masalah. Ingat, menikah itu bukan sekedar pemenuhan nafsu. Hubungan seks menurut Hindu itu adalah hal yang sacral, jadi tak sembarang orang bisa menikah seenaknya,” jelas Wilasa. Dari gambaran itu terlihat bahwa dalam pandangan Hindu, konsep suatu perkawinan sejalan dengan undang-undang perkawinan yaitu UU No 1 tahun 1974, yaitu boleh melakukan pernikahan lagi atas seijin istri pertama dan karena beberapa alasan tertentu.

Hakekat perkawinan yaitu suami dapat membahagiakan istri. Namun yang menjadi pertanyaan, Apakah wanita yang dimadu itu bahagia? Jawaban sangat jelas yaitu, dari beberapa orang ibu-ibu yang dimadu mengaku tak bahagia. Rata-rata alasannya terpaksa mengijinkan suami menikah lagi. Ingat, purusa dalam masyarakat Hindu sering menjadi topic pembicaraan. “Jangan sampai anak laki-laki digunakan kedok laki-laki untuk menikah berkali-kali. Istri tak mampu melahirkan anak laki-laki lantas mau mencari istri lagi. Itu salah, apalagi alasannya tak punya anak,” tambahnya. Sebenarnya, orang tak perlu takut tak mempunyai keturunan. Dalam kitab Sarasamuscaya, dilihat dari tugas hidup, seseorang yang lahir ke dunia diibaratkan karena pada masa kehidupannya yang dulu tugasnya belum dianggap tuntas. Untuk itu ia harus reinkarnasi ke dunia menyelesaikan tugas yang masih tersisa. “Jangan sampai orang Bali masih terikat urusan purusa sehingga orang Bali berlomba-lomba menikah lagi dengan alasan diperbolehkan menikah lagi oleh ajaran agama,” tegasnya. Wilasa menentang keras adanya poligami jika dilatarbelakangi oleh nafsu dan menurutnya perlu penelitian khusus tentang masalah ini terutama dampaknya bagi kaum hawa.

Sumber : cybertokoh

About these ads

2 comments so far

  1. jini on

    vbjkbkjb

  2. urut situmpul on

    Susahnya kalau di kitab suci, ada diizinkan meskipun dengan berbagai alasan, maka orang cendrung melakukan tentu dengan usaha merubah sana sini. Makanya tidak salah kalau akhirnya banyak umat menghalalkan poligami. Kitab suci sejati mestinya tak boleh memberi penafsiran liar semacam ini. karena dengan alasan sakit perutpun, seorang suami sudah beralasan mau kawin lagi, atau dengan alasan tak punya anak lelaki seorang suami memang berhasrat kawin lagi !!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: