Hindu bukan hanya Bali
Dalam pandangan sejarawan Nyoman Wijaya, kajian yang dilakukan Michel Picard merupakan studi mendalam tentang perdebatan panjang yang dilakukan kaum intelektual Bali. ”Ini studi yang menarik. Kita harus bisa memahami kekeliruan kita selama ini dengan memahami perdebatan itu,” ungkap dosen sejarah Unud itu. ”K ita tidak bisa membedakan, beragama Hindu Bali atau Hindu Dharma,” jelas Wijaya. Ketidakjelasan itulah, menurut Wijaya, yang sedang dikaji Michel Picard.
Selama ini, katanya, masyarakat Bali mengklaim diri memeluk agama Hindu Dharma, padahal praktik kesehariannya lebih dekat pada Hindu Bali. ”Hindu Dharma itu lebih universal. Acuannya Weda. Hindu Bali lebih banyak dilandasi adat dan tradisi,” tambahnya. Kalau benar masyarakat Bali beragama Hindu Dharma, hendaknya unsur adat Bali dikurangi dan universalitas agama Hindu-lah yang lebih ditonjolkan,” tutur Wijaya kepada Tokoh di sela-sela Seminar Seri Sastra Sosial Budaya di Fak Sastra Unud, Jumat (2/6).
Nyoman Wijaya mengakui, jika masyarakat Bali benar-benar ber-Hindu Dharma, yang unsur universalitas agama Hindu-nya ditonjolkan, akan terjadi perubahan signifikan dalam kebudayaan dan pandangan hidup masyarakat Bali. ”Dengan sendirinya kita akan meninggalkan kasta. Begitu juga dengan budaya dominasi lelaki atas perempuan akan hilang,” kata Wijaya.
Perbedaan menonjol agama Hindu Bali dan Hindu Dharma ada pada pelaksanaan upacara yang menganut konsep tapak dara. Garis tegak lurus (vertikal) pada tapak dara itu, menurut Wijaya, upacara yang berorientasi ke Tuhan, sedangkan garis horizontal pada agama Hindu Dharma bermakna upakara yang berarti pelayanan sosial pada manusia dan lingkungan. ”Pada agama Hindu Bali, garis horizontal itu dimaknai sebagai sarana upacara atau banten,” tutur Wijaya.
Lelaki berkaca mata itu menekankan, kalau masyarakat Bali benar-benar ingin beragama Hindu Dharma dengan kecenderungan pada universalitas ajarannya, harus berani meninggalkan keangkuhan kedaerahan. ”Orang Hindu itu tidak hanya orang Bali,” tegasnya.
Sumber : cybertokoh
18 comments so far
Leave a reply
Tapi tujuan utama umat Hindu Bali dan umat Hindu Dharma itu sama kan Mr.Lekig…?
#dwihandyn
Tentu saja sama, termasuk juga semua agama lain, tujuannya sama, yaitu mencari kedamaian..
Salam,
Bagaimana Pandangan agama Hindu terhadap adanya perbedaan pasek..? mohon penjelesanya dan bagaimana dengan adanya istilah mekedengan ngad dalam istilah bali, apakah hal ini mempunyai landasa hukum menurut Hindu?
#I Gunarta Kunang Bawa
waduh, pertanyaannya berat nih…
saya belum bisa menjawab, nanti kalau kebetulan saya temukan uraian tentang itu, akan saya posting..
ampura dumun nggih.. (mohon maaf dulu ya..)
NDAS KLENG CHOI………..
#I Gunarta Kunang Bawa>>>> Itu semua hanyalah budaya. Jadi tdk ada hubungannya dgn agama.
Perbedaan Pasek dalam kasanah org Bali, hanyalah sebuah implemantasi dari kecintaan dan rasa bakti terhadap leluhur. Sebenarnya tdk ada exclusivitas dalam hal ini. Tdk ada manusia yg lebih tinggi atopun lebih rendah derajatnya dipandang dari sudut keturunan. Sesungguhnya perbedaan Pasek tersebut muncul setelah berkuasanya Dalem Klungkung. Jadi dijaman sekarang, kita tdk perlu lagi mempermasalahkan.
Mekedengan ngad? dalam konteks apa?
Saya sangat setuju dengan postingan ini.!!
Dulu saya sekolah s/d SLTP di Bali, sangat tdk merasakan bgmna Hindu sebenarnya. LAlu ktika sy tinggaklan bali dan ke Makassar, disana muncul 1001 macam prtanyaan ttg Hindu dr umat lain.
maaf sy jg bukkan ahli hindu. Aneh memang, dan banyak yg diluar nalar saya melihat Hindu di Bali. Hanya ikut, dan ikut & nak mulo keto.
Harusnya kita berani mngkritik diri bahwa selama ini kita telah menyimpang dr Weda, namun di bali sy liat lontar konon mrpakan pngejewantahan dr WEDA. Entah dr mana referensi lontar itu. (sangat bertentangan dg weda)
Selama ini umumnya di Bali, org beragama hanyalah cukup dtg ke pura, ber tajen, me-ceki di pura, bikin upakara ssebesar2nya,atau tawuran dgn desa lain ketika bertemu dlm 1 Pura (misal Nge-lungang). Ini sangat jauh dari ajaran weda yg mengajarkan kesederhanaan. spt itukah Hindu??
Mngkin bnyak seperti saya, hindu yg diluar Bali, awalnya pasti banyak dapat pertanyaan dr umat lain, dan bingung harus jawab apa. (yah kalo di Bali aja siapa yg bakal naya??)
Menurut saya itu mrupakan sebuah tantangan kpd kita untk membuka Weda, dan melihat sebenarnya BAGAIMANA BERAGAMA HINDU.
Maaf kalo sy lancang. Ini hanya sebuah kepprihatinan sy terhadap hindu. Melihat banyaknya kaum muda Hindu trutama yg mrantau diluar bali, dengan sangat mudahnya ditarik oleh umat lain. Mari kita pikirkan bersama..
Hindu harus Maju & memahami kitabnya, bukan hanya tradisi/adat saja yg ditonjolkan.
Namun bukan berarti tradisi/adat dilupakan, tapi harus dikurangi porsinya & dibedakan dgn agama/Hindu.
Mengapa org kalimantan, Jawa, Betawi, Makassar, dll yg beragama Islam bisa membedakan Islam vs Adat daerahnya, sedangkan Hindu vs Adat Bali tdk bisa dibedakan??
Org Hindu baik yg suku Bali atau bukan harus benar2 berpatokan ke Weda, Harus memahami ajaran Weda, sehingga ketika ditanya oleh umat lain kita bisa menjawab. bukan jawaban “memang begitu dari dlu” atau “menurut di Bali”
Sehingga orang Non Bali akan bisa memahami&bisa menerima/memeluk Hindu, dan anggapan selama ini bahwa Hindu adalah Agama BALI akan hilang. Ingat kita jangan terlalu bangga menjadi Hindu yg pemeluknya hanya ORG BALI SAJA.
Jika kita tak berani berubah, saya yakin beratus2 tahun ke depan Hindu akan begini-begini saja. Ingat generasi harus kita dasari dengan Weda, bukan dg adat, sehingga dimanapun mreka berada, walaupun dalam komunitas yg minim, mereka tak akan tergoyahkan dr HINDU.
serta tidak mudah di tarik, atau malah bisa menarik calon pasangannya/org lain..
Maaf kalo sy lancang..
Agus Alit Darmaputra
from Makassar
http://bartendingmaster.blogspot.com/
Divka@@@@ saya setuju dgn apa yg anda ungkapkan. Bahwa Hindu harus bisa dibedakan adntara adat dan agama. memang di Bali sampai saat ini hal2 tersubut masegh belum jelas garis embarkasinya. Mana adat, dan mana yg ada kaitannya dgn Hindu.
Tapi intinya adalah, apapun itu..mari kita bersama2 mewujudkan Hindu kedepan yg mengacu terhadap ajaran2 Weda yg sesungguhnya, namun..jgn samapai juga mengkerdilkan kasanah budaya yg terkandung didalmnya. Dalam menjalankan agama, bukanlah semata2 mengacu kepada kitab suci. Tapi lebih kepada unsur Tri Hita Karana.
Sejujurnya terkadang saya juga ingin mebantah, menentang hal2 yg terkadang membuat umat Hindu merasa “terpaksa” utk menjalankan agamanya (baca adat istidatnya). Tapi, terkadang sosial masyarakat sangat susah utk diajak berubah…walopun itu kearah yg lebih baik, dan menuju kepada substansi dari ajaran Hindu sendiri. Karena bisa2 akan terjadi perpecahan antar umat. Untuk menghindari semua itu, saya ikut saja. Utk apa terlalu melawan arus, kalo akibatnya tdk baik. Biarkanlah waktu yg akan menjawab semua itu. Seiring dgn kemajuan dan tekhnologi serta intelektual manusia. Semua akan menuju ke hal yg lebih baik.
Satu hal, utntuk apa juga kita ngotot2an tentang mana agama dan mana adat..kalo akibatnya justru tidak baik. Toh, menurut ajara Weda…dari manapun jalannya, akan Aku terima..(Catur Marga Yoga)
Apakah kita menginnginkan seperti agama lain??? mereka ngotot bahwa ajarannya sesuai dgn ajaran ketuhanan…namun implemntasinya masih jauh dari apa yg tersirat dan tersurat dalam ajaran-Nya…
Saya akui…masih banyak sekali kekurangan2 umat Hindu (bali) dalam menjalankan agamanya. Saya tdk mengerti, kenapa disetiap piodalan..ada judi, sabungan ayam, jual minum2an keras… dsbnya….
Seolah2 tanpa itu semua itu..piodalan (Kegiatan keagamaan) menjadi kurang lengkap…
Tapi, dgn semakin gencarnya, darma wacana, darma tula yg dilakukan oleh para pendeta kestiap wilayah.- yg disiarkan melalui media cetak dan televisi- saya berharap..suatu hari kelak, Hindu (bali) semakin mendekati ajaran2 Weda…
Trims atas kritikannya….Kritikan anda adalah sangat membangun…
@kucit Bali..
Benar memang mas, hindu bali memang sangat sulit dipisahkan. Melestarikan adat/tradisi bali merupakan suatu kwajiban harus dilaksanakan, deni utuhnya budaya kita.
walaupun umat lain merasa ajarannya yg paling benar/paling OK di antara yg lain, namun saya juga masing sangat salut kpada pemeluk Hindu, sekalipun minim pengtahuan kitbnya namun sikap/toleran terhadap org lain masih sangat bagus.
sprt telah sy ungkapkan diatas, ini hy kprihatinan sy. Hindu itu akan trus kerdil, mengapa budaya Arab mampu mengajak org indonesia untk melakukan tradisi arabnya di indonesia, sedangkn Hindu yg memang cikal bakal budaya kita dr dulu telah hampir sirnah. Apakah mungkin org2 di indonesia semua nanti akan menggunakan krudung/sorban?lalu akan hilanglah tari2an jaipong, kecak dll.
Nah jika gnerasi muda Hindu tdk mau merubah kbiasaan Hindunya selama ini yg hnya mengetahui Adat saja, maka sy yakin ke depannya kita akan dijajah oleh budaya lain.
Menurut hemat saya, sebenarnya Hindu lebing sangat mudah diterima oleh org umum (non Bali) dengan catatan “jangan memberikan patokan ke Bali” akan tetapi Weda lah yg harusnya jadi Rujukan pasti. Saya sering buktikan, ketika org lain bertanya “Tuhan Hindu itu seperti apa”
Weda/Hindu memang sebagian besar mnggnakan Filosofi yg dalam pemahaman ajarannya, sehingga sebenarnya jauh lebih Logis ketimbang Sabda2 Tuhan di Umat lain yg cinderung Dogmatis.
Namun sayangnya hanya saja Umat Hindu kurang mampu menjelaskan secara Filosofis, biasanya lebih mngarah ke Bali saja, sehingga org lain akan menafsirkan lagi bahwa Hindu adalah agama Bali/ agamanya untk org Bali saja.
Bahkan terkadang jawaban “Nak mulo keto” / “emang kaya, gitu dr dulu” terkadang di lontarkan..
(Tambah bingunglah penanya)
Maka harapan saya bagi generasi muda Hindu hendaknya bisa lebih berani menjadikan dirinya Hindu yg benar memahami bagaimana AGAMA-NYA/Kitabnya walaupun hanya sekedar dasar2 saja.
Karena seprti kita ktahui tak mudah memang merubah kebiasan yg slama ini ada.
Sprti yg anda katana, mudah mudahan pe-dharma wacana bisa membawa Hindu ke Hindu yg lebih UNIVERSAL/Bukan org BAli saja. (yg penting skrg Pe-dharmawacananya lah yg Harus lebih berwawasan luas, bukan hanya berbicara tentang Bali saja.
Ingat Hindu Bukan HAnya Org BAli Saja..
maaf jika ada kata2 yg krg berkenan..
Om Swastyastu,
Divka@@@@ Menilik dari bagaimana Hindu masuk ke Bali, kita tdk bisa meniadakan sejarahnya. Hindu masuk ke Bali berdasarkan atas kedamaian. Pada zamannya, Hindu disebarkan dgn mengadopsi kearifan lokal, yaitu budaya lokal seperti animesme. Sehingga Hindu mudah diterima oleh masyarakat Bali. Tjuannya adalah agar dalam penyebarannya tdk bertentangan dgn ajran agama itu sendiri, salah satunya yaitu Ahimsa. Utk apa juga menyebarkan agama kalo ada unsur pemaksaan sehingga mengakibatkan pertumpahan darah. Yang mana hal tersebut bertentangan dgn ajaran yg disebarkan.
Mengenai budaya arab yg dibawa ke Indonesia. Biarkan saja… Bagaimana caranya kita mengantisipasi? Ya sudah barang tentu dgn melestarikan budaya kita sendiri. Kita sebaiknya jgn ikut2an meniru budaya India. Dalam hal berpakaian ke Pura misalnya. Biarkan org Bali memakai kemben, udeng. Ato org Hindu Jawa yg ke Pura pake blangkon dsb. Karena itu adalah khasanah budaya Indonesia asli. Toh, dalam ajaran Hindu, tdk ada yg mengatur tata cara kita berpakaian dalam melakukan persembahyangan. Sepanjang itu tidak lepas dari kaidah2 norma kesusilaan dan kesopanan.
Saya akui, selama ini masih ada hal2 yg memberatkan org Hindu dalam menjalankan agama Hindu sendiri, khususnya di Bali. Kami di Bali masih lebih menekankan upakara dari pada Tatwa ato etika itu sendiri.
Tapi mari kita ambil positipnya. Dengan adanya upacara lengkap dengan sarana dan prasarana yg mendukung seperti banten, penjor, daging ayam, babi guling dsb. Secara ekonomi makro sbenernya itu sangat membantu masyarakat.
Kita ambil contoh dalam suatu upacara keagamaan dipura. Disitu dibutuhkan bambu, janur, buah, daging dsbnya. Syapa yg diuntungkan? secara sekala, justru hal itu membantu masyrakat dipedsaan untuk meningkatkan taraf hidupnya. Bagi para petani, akan berlomba menanam tanaman kelapa, jeruk, pisang dsbnya. Baegitu juga para peternak, mereka akan berlomab2 mengemabngbiakkan hewan yg sering dipakai utk sarana upacara. Karena hasilnya pasti laku tejual. hal ini disebabkan oleh upacara2 keagamaan yg berlangsung secara terus menerus.
begitu juga suasana kegotongroyongan. Sementara ini, walopun di bali diegempur oleh budaya luar yg sangat kencang. Tapi masyrakatnya masih tetep melestarikan budaya sendiri yg ada kaitannya dgn ke agamaan khususnya. Agama yg dikolaborasikan dgn adat sesungguhnya bisa mempererat persatuan inter pemeluk agama itu snediri. Karena interaksi yg terus menerus.
Namun, sejujurnya…seperti yg saya ungkapkan diatas. Ada juga hal2 yg memberatkan. Seperti halnya saya yg tinggal di DPS, sedangkan kampung halaman saya di karangasem. Setiap ada kegiatan agama (adat), wajib hukumnya utk pulkam. Sehingga sedikit menghamabat karier saya dalam pekerjaan. karena seringnya saya minta izin. Sampai2 saya tdk enak sama bos saya.
Tapi apapun itu, saya secara pribadi sudah menekankan terutama terhadap keluarga kecil saya. Bahwa Hindu itu tidaklah semata2 terkait dgn upacara/ upakara saja. Tapi ada hal2 yg lebih signifikan yg ahrusnya manjadi dasar kita menjalankan ajaran Hindu.
Ok..segitu azah dolo… kritik dan saran anda/ ato dari syapapun juga..sejatinya sangat konstruktif. Asal jgn disertai cela mencela, hina menghina.
Om Santhi, Santhi, Santhi Om..
@kucitBali
itu benar mas.
Namun jika kita amati kedepaannya pekerja di bali(yg kerja di bali) justru pimpinan perusahaan akan mikir untk banyak memakai pekerja dr Bali, mengingat tekanan adat itu, yang mana org bali sellu ijin dan ijin untk kpentingan adat. Maka jadilah sebutan BALI: BA-nyak LI-bur. Sehingga jangan sampe kedepannya pekerja di bali akan dikuasai oleh org bali (non Hindu). Ni cm prediksi aja lho..
Nah disamping itu, intinya kalo pmikiran sy seh maunya semua masyarakat Hindu itu benar2 memahami kitabnya lah. Yah memang kalo masih dalam komunitas Hindu yg banyak di bali aja kan ga masalah, tapi sy punya bnyak teman di Luar bali yg dengan sangat Mudahhhh sekali berpaling dari Indu. karna apa?? karna memang tak memahami kitabnya.
Jika sy amati lg, coba kita lihat para org tua-org tua di Bali, terutama di pedesaan yg non pendidikan, mereka tak kan pernah faham bagaimana Kitabnya. Ok, bagi sy itu biarla, krn mreka sdh tua. Tetapi yg sy inginkan sbnarnya Untk generasi mudanya, apa lg yg pndidikannya sdah tinggi, harusnya sudah bisa lbih faham kitabnya&bsa mengaplikasikan.
Budaya mmng wajib dilestarikan, tp bisa kan kita membedakannya dg Agama Hindu?? (maaf bukan dr segi pakaian yg hrus meniru org India ya..)
Bgtu juga denga sistem “Kasta Ala org BAli” masih aja berlaku pembedan derajat Manusia di masyarakat. (anda bs baca buku “penyimpangan yg beratus-ratus tahun”).
Dan terus trg aja sy smpe skrg belum faham mengenai Reinkarnasi.
Jika ssorg itu sudah menjiwai seorg bayi di dunia&tmbuh dewasa, otomatis kan harusnya Roh yg sebelumnya belum mencapai Moksa.
Lalu mengapa masih sj org Bali ke dukun untuk menyanyakan, dan trkadang konon roh org tsb menyakiti sanak keluarganya & dikatakan sbg “dewa Hyang” dan meminta sesuatu. Yah, memang sayangnya sbagian besar masyarakat Bali masih prcaya dg “suara2/pmbicaraan org yg sedang kerasutan”
(maaf pngt sy jg masih minim, jd sy masih bingung dg hal ini, artinya ini ga sijalan dg pemaparan weda)
Yang di Bali biarlah seperti apa yang ada di Bali. Cuma perlu disesuaikan dengan sikon dan kemajuan jaman. Tidak ada masalah…
Untuk yang di luar Bali sesuaikan juga dengan daerah tempatan / lokal. Jangan Balinisasi dalam segala hal (pura, banten, pakaian sembahyang, dll). Adat di Bali memang sangat kuat, malah menjadi seperti saringan / penyaring.
Perlu dipikir dan ambil langkah :
- bagaimana jika seorang gadis (Bali – Hindu) mendapat suami non Hindu yang kemudian menjadi Hindu.
- bagaimana membekali para pemuda Hindu (Bali) agar tidak jadi paid bangkung monotan…
- bagaimana orang Bali tidak malu bekerja di sektor informal (tukang bakso, etc).
- bagaimana memilih pejabat / penguasa Bali yang berwawasan ajeg Bali. Jangan setelah berkuasa malah kejar setoran dengan menjual Bali.
Hidup GOLPUT (yang konon haa…rrrammm…)
Salam,
mau hindu bali mau hindu darma..bukankah keduanya bisa berjalan selaras? itulah mengapa saya paling tidak bisa menerima ketika saya bertanya mengenai makna banten2 yg harus disiapkan oleh untuk setiap persembahan upacara…
apakah pemisahan antara hindu bali dengan hindu darma adalah sebuah jalan keluar karena tidak bisa menjelaskan mengapa harus di buat persembahan dengan menggunakan banten? atau mengapa ada yang namanya kitab weda yang mengajarkan doa…
om swastiastu,
saya sepenuhnya setuju dengan pendapat kucitbali. Memang ada bbrp hal yg harus diperbaiki dalam adat dan kebiasaan masyarakat bali (terutama kebiasaan metajen, maen ceki, dsb). Dan saya rasa itu tidak bisa dihubungkan secara dengan hindu (komentar ini saya tujukan untuk divka HD). Itu semua adalah karakteristik masyarakatnya. Seperti masyarakat betawi yang doyan menjual tanah dan berjudi, masyarakat bali pun kurang lebih sama.
Hindu di Bali memang lebih mengutamakan upakara dibandingkan tatwa nya. tetapi apakah itu lantas mengurangi makna dari yadnya mereka, saya rasa tidak. dan apabila pertanyaannya kita balik, hindu diluar bali lebih mengutamakan tatwa/filsafat dibandingkan upakara, dan apakah hal ini juga memberi makna yang lebih rendah, saya rasa juga tidak.
dear divka HD, saya juga sangat mencintai bali, sangat menghargai adat istiadatnya dan mirip seperti anda saya juga orang bali yang sedang merantau di jakarta/australia/jerman. Dan ketidakmampuan untuk membuat persembahan berupa banten bukan merupakan jawaban untuk memisahkan antara hindu bali dan hindu dharma.
kita semua adalah penganut agama hindu, bukan pemeluk hindu. memang klo “pemeluk”, klo sudah bosan memeluk satu agama akan dengan segera pindah ke yg lain…
salam,
Hindu menganut faham cintai semua, sayangai semua….jadi tidak hanya orang Bali saja yang perlu beragama Hindu, semua orang pun bisa beragama Hindu….di Kalimantan misalkan banyak suku Dayak yang berdiam di pulau tersebut menganut Hindu, tapi sektanya Kaharingan….
komentar2 itu sangat baik yang menunjukkan betapa cintanya kita kepada Hindu. Untuk memahami Hindu di Bali sebaiknya kita melihat kembali sejarah dan sifat perkembangan Hindu di Bali. Adat dan agama Hindu telah lama menyatu di Bali yang menunjukkan orang Bali tidak dapat melepaskan adat dari agamanya. dalam semua tindakannya pada umumnya tercermin unsur-unsur agama.Agama Hindu bersifat emanasi dimana tradisi/kepercayaan awal disesuaikan dengan ajaran Hindu, bukan dihapuskan seperti pada agama lainnya. Agama Hindu sangat luas dan orang Bali suka mengumpulkan hal-hal yang bernilai tinggi,tidak menghadapkan nilai yang satu dengan yang lainnya.Marilah kita kenali dulu lebih mendalam sebelum kita melakukan penilaian.
Oh, saya tidak tahu yang agama Hindu di Bali adalah berbeza.